Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sebesar 7,75% sebagai persiapan untuk pelonggaran kebijakan moneter pada paruh kedua tahun ini.
Menurut laporan surat kabar Indonesia The Jakarta Post pada 16 Januari, baru-baru ini, setelah rapat dewan gubernur Bank Indonesia, juru bicara bank tersebut, Serryka, menyatakan bahwa untuk lebih efektif menghadapi tantangan eksternal berupa kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS dan pemulihan ekonomi global yang berjalan lamban, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 7,75%, suku bunga pinjaman sebesar 8%, dan suku bunga simpanan sebesar 5,75%.
Sebelumnya, Presiden Indonesia Joko Widodo mengumumkan penurunan harga bensin dari sebelumnya 7.600 rupiah per liter menjadi 6.400 hingga 6.500 rupiah per liter (sekitar 52 hingga 53 sen AS), yang diperkirakan dapat menurunkan tingkat inflasi sebesar 0,24%. Tahun ini tekanan inflasi di Indonesia relatif kecil, sehingga tingkat suku bunga yang berlaku saat ini mampu menjaga tingkat inflasi tetap berada pada level 4% serta mendukung perkembangan ekonomi yang berjalan secara normal.
Saat ini, indikator makroekonomi Indonesia tergolong sehat; kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tidak akan menimbulkan gejolak serius pada pasar modal Indonesia. Namun demikian, Bank Indonesia tetap akan terus memantau stabilitas makroekonomi. Konsistensi dalam menerapkan kebijakan moneter yang bersifat ketat serta kebijakan makroprudensial, ditambah dengan penurunan harga minyak dunia yang meredakan tekanan inflasi, akan membuka ruang bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih longgar pada paruh kedua tahun ini.
Selain itu, penurunan suku bunga acuan yang cepat dapat berdampak negatif terhadap nilai tukar rupiah; tahun lalu rupiah terdepresiasi sebesar 1,7% terhadap dolar AS, dan sejak awal tahun ini depresiasinya telah mencapai 1,4%.
Halaman sebelumnya:
微信咨询