Chairman of the China–Indonesia Economic and Trade Cooperation Zone, Fan Zhiming, menghadiri dan berbagi dalam Silk Road Lecture Series.


Pada tanggal 7 Mei 2020, pukul 14.00 hingga 15.30 (waktu Beijing), sesi ke-18 dari rangkaian kursus daring berbasis amal “Kelas Besar Jalur Sutra” yang diselenggarakan oleh Pusat Promosi Kerja Sama Kapasitas Produksi Internasional Jalur Sutra berhasil digelar. Fan Zhiming, Ketua Dewan Direksi Kawasan Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok–Indonesia, diundang sebagai narasumber untuk berbagi pengetahuan dengan para peserta.

Dalam siaran langsung tersebut, Fan Zhiming memberikan analisis mendalam mengenai dampak situasi pandemi global saat ini terhadap investasi di Indonesia serta strategi investasi yang tepat; ia juga menjelaskan secara rinci perubahan kebijakan pemerintah Indonesia, serta risiko dan peluang investasi di Indonesia, sambil membagikan beberapa contoh perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Indonesia agar para peserta dapat mempelajarinya. Pada akhir sesi, beliau menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para peserta.

Menanggapi pertanyaan mengenai apakah industri baru di Indonesia mendapat subsidi dan kebijakan preferensial, Fan Zhiming menjawab bahwa sejak beberapa tahun lalu, kawasan kerja sama, kedutaan besar, dan Kamar Dagang Tiongkok telah berupaya memperjuangkan kebijakan-kebijakan tersebut bagi para pelaku usaha. Namun, karena situasi di Indonesia yang bersifat khusus, kebijakan-kebijakan tersebut baru-baru ini belum juga diterbitkan. Ia menegaskan bahwa dalam melakukan investasi, yang paling penting bukanlah sekadar mencari subsidi atau insentif kebijakan, melainkan memperhatikan kondisi pasar. Jika pasar tidak kondusif, maka meski ada kebijakan preferensial pun usaha tetap sulit untuk bertahan. Oleh karena itu, kegiatan investasi harus selalu mengikuti perkembangan pasar; sementara itu, Indonesia memiliki sumber daya manusia muda yang melimpah dan berbiaya rendah serta sumber daya alam yang melimpah. Dengan membawa teknologi Tiongkok ke Indonesia, mengintegrasikannya dengan sumber daya lokal, dan dengan demikian mendorong pembangunan ekonomi Indonesia, barulah dapat terwujud kerja sama yang saling menguntungkan dan menghasilkan keberlanjutan bagi kedua belah pihak.

Fan Zhiming menyatakan bahwa dalam wabah kali ini, perusahaan bermodal Tiongkok di Indonesia telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam penanggulangan pandemi—mereka tidak hanya berperan aktif pada babak pertama di Tiongkok, tetapi juga pada babak kedua di Indonesia. Karena itu, beliau menyampaikan penghormatan kepada para warga negara kita yang senantiasa setia menjalankan tugas di Indonesia, serta memuji seluruh pengusaha yang terlibat dalam upaya penyelamatan, khususnya para pengusaha asing dari Tiongkok yang telah menetap di Kawasan Kerja Sama, atas kebaikan hati dan tindakan mulia mereka, yang dengan jelas menunjukkan kapabilitas serta tanggung jawab sosial para perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Akhirnya, Fan Zhiming berpendapat bahwa Presiden Indonesia Joko Widodo berasal dari kalangan rakyat biasa, telah melalui kampanye pemilu yang sengit hingga akhirnya terpilih kembali, dan setelah terpilih kembali ia mengusulkan rencana pemindahan ibu kota—semua ini cukup menunjukkan bahwa Presiden Joko Widodo adalah sosok yang inklusif dan penuh gagasan. Ia menyatakan bahwa dengan adanya seorang pemimpin yang penuh kebijaksanaan seperti beliau memimpin Indonesia, iklim investasi di Indonesia pada masa mendatang pasti akan semakin membaik. Kepada para pelaku usaha yang tertarik untuk berinvestasi dan menanamkan modal di Indonesia, disampaikan ucapan selamat datang. Zona Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok–Indonesia, sebagai zona kerja sama ekonomi dan perdagangan luar negeri pertama yang didirikan Tiongkok di Indonesia, akan terus berperan sebagai jendela penting bagi hubungan antara Tiongkok dan Indonesia, serta berkomitmen sepenuh hati melayani para pengusaha.